Batang - Pertumbuhan ekonomi suatu kota, ditandai dengan menjamurnya atau makin berkembangnya jumlah pelaku usaha, yang diantara salah satunya, yaitu warung lesehan ‘INUL’, yang sudah melakukan usahanya dipinggir alun-alun Kabupaten Batang selama hampir tujuh tahun. Selama itu pula, sebagai penggerak roda perekonomian ini, belum pernah mendapat bantuan permodalan dari pihak pemerintah setempat.
Sebagaimana dikatakan oleh pemilik warung lesehan ‘INUL’ Batang, Ike Yuliana (23), yang telah berjualan di alun-alun Batang selama hampir tujuh tahun mengatakan, bahwa sebenarnya dirinya butuh permodalan untuk dapat meningkatkan usahanya, namun selama ini belum ada dan belum pernah mendapat bantuan dari pihak pemerintah untuk membantu permodalan usahanya.
“Kami belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah berupa pinjaman lunak, padahal terus terang saja, kami butuh tambahan modal. Sebab harga bahan pokok sudah pada naik semua, sehingga dengan sendirinya akan menambah ongkos belanja”, terang Ike.
Menurutnya, usaha yang digelar mulai pukul 4 sore hingga jam 1 malam ini, membutuhkan kesabaran dan keuletan, dimana kondisi saat ini dalam keadaan yang tidak stabil perekonomian. “Terkadang kalau lagi ramai, hasil penjualan bisa mencapai 1 juta, namun kalau hari-hari biasa, paling banter hanya separonya“, terang ibu dari Nasya (3,5) dan Azka (2,5).
Untuk dapat mempertahankan usahanya, disamping berjualan warung lesehan dimalam hari, juga dirinya usaha dibidang perkreditan barang seperti barang elektronik dan mebeuler. “Agar modal kami tidak mengandalkan dari usaha warung lesehan saja, kami juga melayani masyarakat dibidang perkreditan baik kredit barang elektronik maupun mebeuler. Pokoknya, apa yang diinginkan oleh masyarakat kita layani”, ucap Ike dengan senyuman khasnya.
Lebih jauh dikatakan, bahwa warung lesehan yang digelar hampir tujuh tahun ini, memang mempunyai ciri khas tersendiri, dimana nama-nama menu makanan dan minuman dengan bahasa gaul, seperti menu sate Yongki, yang ternyata bahannya adalah keong atau kiyong, sate bilyard yang bahannya dari telur puyuh yang ditusuk, dan ada sambel ‘setan’, yang rasanya khas buatan anak Batang, dan masih banyak lagi nama makanan dan minuman yang ditawarkan dengan bahasa gaul.
“Maklum, kebanyakan yang makan disini anak-anak muda, sehingga saya menyesuaikan dengan bahasa gaul atau gaya remaja”, tutur Ike yang saat ini yang masih menjomblo. (SW-01/3)