Tampilkan postingan dengan label seniman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seniman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Mei 2010

SANG BINTANG YANG BETAH DI KAMPUNG

Penyanyi yang satu ini barangkali bagi masyarakat khususnya penggemar music dangdut sudah tidak asing lagi, karena memang ia adalah sosok penyanyi yang sudah melanglang buana kepelosok Jawa, khususnya Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Tidak jarang kalau pas banyak job merasa kewalahan bagi penyanyi yang bernama Dewi Bintang (25), di usianya yang masih energik menggunakan waktunya untuk meniti karir dari panggung ke panggung. Bahkan beberapa album rekamannya sempat menjadi ‘Best Seller’ di beberapa kota.

Dewi panggilan akrabnya mempunyai hobby menyanyi sejak kelas 5 sekolah dasar, meski bukan dari darah seniman atau penyanyi, namun keberaniannya tampil diatas panggung sudah Nampak sejak kecil.

Sejak ia terjun didunia tarik suara, ia tidak pernah pilih-pilih tempat. Karena pada prinsipnya menyanyi dimana saja tidak dipersoalkan, asalkan sesuai dengan perjanjian yang disepakati.

“Kalau masalah tariff itu relative, tergantung siapa yang mengundang. Yang terpenting kalau sudah ada kesepakatan antara saya dan yang memberi job buat saya…jalani aja” ungkap Dewi sambil mengibaskan rambutnya terjurai kebawah.

Dewi yang kini telah berputra satu lebih memilih untuk hidup dikampungnya di Sragi kabupaten Pekalongan karena hingga saat ini ia masih betah dikampungnya ketimbang harus hidup di luar kota.

“Saya lebih memilih hidup dikampung dan menikmati kehidupan kampung yang ramah tamah. Yang penting jalani aja hidup ini agar terasa nikmat. Yang penting kita harus bisa mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan”tutur Dewi sang bintang yang bersuamikan Urip Sugiarto alias Anto.

Dengan bermodalkan suara yang khas Dewi Bintang berusaha untuk dapat menjadi bintang yang dapat menyinari seisi rumah dan sekitarnya, hingga hari-harinya selalu diisi dengan kegiatan menyanyi diatas panggung baik diiringi oleh Solo Organ atau music Orkestra atau Rockduth. Semoga bintang-bintang selalu menyinari dunia yang gelap ini.(AR)

Sabtu, 15 Mei 2010

SENIMAN TIDAK BUTUH DEWAN KESENIAN ??


Pekalongan - Persoalan wadah seniman yang selama ini ada di Pemerintahan dengan nama Dewan Kesenian mendapat tanggapan serius dari seniman yang dijuluki ‘hiden arts’ karena memang seniman yang tersembunyi.

Sebagaimana dituturkan oleh pekerja teater, Angger Samudra didampingi Anto Gondrong di padepokan teater ARDA yang saat ini sedang berupaya, agar bagaimana seni di Kota Pekalongan bisa hidup kembali.

“Persoalan proses para seniman lebih cenderung pada arts atau seni, yaitu sebuah karya yang menuju kearah persoalan estetika, sehingga seni atau Arts bagi pelakunya adalah sebuah kreatifitas estetika para seniman itu sendiri dalam mengolah karyanya, bukan bagaimana menjual seni untuk diperjual belikan”, tutur Angger.

Menurutnya, dengan adanya Dewan Kesenian merupakan solusi yang tepat dalam memberikan wadah bagi para seniman untuk berkarya, akan tetapi struktur atau orang yang menanganinya harus tepat dan tahu akan seni.

“Kalau struktur pengurus tidak menguasai adanya kultur dan estetika tentang Pekalongan, maka kinerja Dewan Kesenian masih diragukan. Artinya, bagaimana orang-orang yang duduk di Dewan Kesenian adalah harus orang-orang yang mengetahui tentang estetika dan kultur orang Pekalongan dan juga harus mampu menterjemahkan dihadapan para seniman”, jelas Angger.

Persoalannya adalah selama ini yang sering diributkan adalah adanya subsidi dana, karena Dewan Kesenian memang mendapat anggaran dari APBD. “Dewan Kesenian harus jadi dokter estetika yang mampu mengobati para pekerja seni untuk dapat menghidupkan hasil karya seninya, jangan malah sebaliknya, justru Dewan Kesenian menjadi ‘pasiennya’, imbuh Angger.

Lebih jauh dikatakan Angger, bahwa Dewan Kesenian harus sanggup memberikan tempat bagi kreatifitas para seniman yang berupa sarana dan prasarana. “Dewan Kesenian harus mampu mengobati para seniman yang ‘sakit’, yang selama ini kurang sarana dan prasarana, bukan malah sebaliknya ramai-ramai mencari obat untuk dirinya sendiri”, terang Angger.

Menanggapi adanya struktur Dewan Kesenian yang dikomandani oleh seorang birokrat dan beberapa anggota Dewan yang tidak memiliki jiwa seni, dirinya menilai perlu diadakan pengkajian, sejauh mana instrumen Dewan Kesenian dalam menangani persolaan seni di Pekalongan dan secara umum.

Apa yang dilakukan oleh Dewan Kesenian harus dapat mengcover para pekerja seni, bukan sebaliknya Dewan Kesenian mencari pekerjaan didalamnya. Karena hubungan pekerja seni dan Dewan selama ini belum optimal dan bersinergi dengan baik.

“Hubungan seniman dengan Dewan Kesenian merupakan sebuah hubungan yang tidak ada keterikatan. Seniman tidak berharap sekali dengan Dewan Kesenian. Seniman mempunyai idealisme sendiri, ada atau tidak ada Dewan Kesenian , Seniman masih tetap berkarya, contohnya Candi Borobudur berdiri tanpa adanya Dewan Kesenian”, katanya dengan kelakar. (SW-01@3)