Sabtu, 15 Mei 2010

WALIKOTA PEKALONGAN RESMIKAN TABLOID SUARA WARGA


Pekalongan - Akhirnya harapan dari seluruh jajaran redaksi Tabloid Suara Warga yang berada di Kelurahan Tirto Pekalongan terlaksana dengan baik dan dan berjalan lancar, sekaligus diresmikan oleh Walikota Pekalongan pada hari Sabtu 16 Pebruari 2008 lalu.

Acara yang dihadiri Walikota Pekalongan, dr. Basyir Ahmad, Dandim 0710 Pekalongan, Letkol Sapriadi, Kapolwil Pekalongan yang diwakili oleh Kompol, H. Agus Salim serta Kapolsek se-Kota Pekalongan, Camat dan Kepala Kelurahan se Kota Pekalongan berlangsung cukup hidmat dan meriah.

Dalam sambutannya Walikota Pekalongan, dr. Basyir Ahmad merasa bangga dengan hasil kerja dari kelompok interaktif masyarakat (KIM) Kelurahan Tirto hingga dapat menerbitkan sebuah tabloid yang dapat dijadikan sebagai sarana informasi dan komunikasi bagi masyarakat Pekalongan, khususnya di Kelurahan Tirto.

”Kami atas nama Pemerintahan Kota Pekalongan merasa salut kepada KIM Tirto yang telah berupaya untuk dapat membuat sebuah sarana informasi dan komunikasi kepada masyaraka,t khususnya dalam memberikan informasi-informasi Pemerintahan hingga dapat dipahami oleh masyarakat”, ucapnya.

Selanjutnya, diharapkan walikota, didalam pemuatan pemberitaan hendaknya dapat dijadikan sumber informasi yang dilandasi dengan hati nurani bukan didasarkan atas ’pesanan’.

”Saya berharap agar media ini dijadikan sebagai sarana komunikasi dan informasi yang positif yang dalam pemuatan beritanya didasari atas hati nurani bukan didasarkan atas pesanan yang dibayar oleh seseorang”, tekan Walikota

Pada kesempatan yang sama, Nurachim, Kepala Kelurahan Tirto Kecamatan Pekalongan Barat yang juga selaku penasehat Redaksi Suara Warga, berharap kepada seluruh jajaran Redaksi Tabloid Suara Warga agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan bertanggungjawab, karena sebuah berita yang ditampilkan harus berdasarkan atas data dan fakta, bukan atas dasar opini yang mengarah kepada fitnah.

”Saya berharap agar dalam menampilkan pemberitaan harus dapat dipertanggungjawabkan yang berdasarkan atas data dan fakta yang ada, sehingga tidak menimbulkan dan berbenturan dengan hukum”, harap Nurachim.

Sementara itu pimpinan redaksi (Pimred) tabloid Suara Warga, Ali Rosidin mengatakan bahwa upaya dari gagasan pembuatan tabloid ini atas kesepakatan dari anggota KIM yang berusaha memberikan informasi kepada masyarakat luas khususnya masyarakat Kelurahan Tirto.

”Kegiatan pembuatan tabloid ini atas kesepakatan anggota KIM Tirto dalam upaya memberikan informasi dalam pembahasan permasalahan - permasalahan yang berkembang di masyarakat, khususnya Kelurahan Tirto agar kondusif”, terangnya.

Selanjutnya dituturkan Ali, untuk dapat berkembangnya tabloid Suara Warga dibutuhkan dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak. Oleh karenanya, Suara Warga berusaha melakukan berbagai upaya untuk menjalin kemitraan dengan berbagai pihak-pihak terkait.

”Kami menyadari untuk dapat berkembangnya tabloid ini, dibutuhkan dukungan dan kerjasama dari semua pihak. Oleh karenanya kami berharap semua pihak untuk dapat bekerjasama dan memberikan dukungan guna berkembangnya tabloid ini”, harap Ali. (SW-01@3)


PONPES ALKHOIRIYAH SIAP CETAK SANTRI MANDIRI


Pemalang- Pondok pesantren yang identik dengan santrinya yang digembleng dibidang ilmu agama keberadaanya patut mendapat perhatian baik Pemerintah maupun masyarakat yang peduli dengan pondok pesantren.

Sebagaimana keberadaan pondok pesantren Al Khoiriyah di desa Klareyan Kecamatan Petarukan Pemalang yang dengan fasilitas seadanya berupaya untuk dapat menelorkan para santri berguna ditengah-tengah masyarakat.

Seperti dituturkan Pengasuh Ponpes AL-Khoiriyah Desa Klareyan Petarukan Pemalang, Kyai Abdul Kholil Bisri ketika dditemui dipondokan mengatakan bahwa meskipun santrinya belajar dengan sarana dan prasarana seadanya namun pembekalan ilmunya tidak kalah dengan ponpes yang ada dikota-kota besar.

“Santri di Ponpes Al khoiriyah disamping memperdalam ilmu agama, juga diberikan bekal ketrampilan. Yang insya Allah kami akan bekerjasama dengan pihak Induk koperasi pondok pesantren(Inkopontren) Jawa Tengah”terang Kyai Kholil panggilan akrabnya.

Kerjasama kemitraan dengan Inkopontren Jawa Tengah diantaranya kerjasama dibidang agrobisnis, seperti penanaman budi daya jagung, budi daya singkong, budi daya ternak sapi , usaha simpan pinjam syariah, koperasi pesantren dan pembukaanb bengkel kerja santri.

“Insya Allah dengan adanya kerjasama kemitraan dengan pihak Inkopontren ini, para santri akan dapat bekal ketrampilan, sehingga bilamana santri lulus atau keluar dari pondokan akan dapat mengembangkan ketrampilannya dimasyarakat dan dapat berguna bagi orang banyak”harap Kyai Kholil.

Lebih jauh disampaikan Kyai kholil bahwa keberadaan dan kondisi Ponpesnya perlu mendapat perhatian dan bantuan untuk dapat berkembang lebih maju.

“Silahkan kalau berbagai pihak ingin membantu kami dalam perbaikan sarana dan prasarana, karena terus terang kondisi atau sarana belajar santri seadanya dimana tidak ada meja dan kursi untuk belajar ,padahal jumlah santri saat ini berkisar 50 santri” terang Kyai Kholil.(SW-01)


LPK INASABA PEDULI ANAK PUTUS SEKOLAH


Pekalongan- Guna menampung anak putus sekolah namun mempunyai prestasi, pihak Lembaga pendidikan komputer(LPK) INASABA Pekalongan membuka program bea siswa kursus para profesi(KPP) yang bekerja sama dengan pihak Dirjen Pendidikan Luar Sekolah(PLS) Depdiknas.

Direktur LPK INASABA, Rina Arsiyanti, Skom mengatakan bahwa pihaknya sangat prihatin terhadap anak putus sekolah yang mempunyai bakat di bidang komputer sehingga sebanyak 80 anak putus sekolah yang mau dibekali pendidikan komputer dan sebagai penerima bea siswa program kursus para profesi di Kota Pekalongan.

“ Bagi anak putus sekolah yang merupakan pengangguran berprestasi kami siap untuk memberikan pelatihan di bidang komputer. Kami mempersiapkan sebanyak 80 peserta untuk diberikan penguasaan komputer agar dapat membekali mereka di bursa dunia kerja”terang Rina.

Selanjutnya dikatakan Rina, setelah ke 80 peserta penerima program kursus para profesi akan diiusahakan dan disalurkan ke perusahaan-perusahaan baik di Kota Pekalongan maupun luar kota.

“Rencananya pelatihan akan diberikan 4 kali pertemuan dalam seminggu, dengan dibagi 3 group. Hal ini dilakukan agar hasil binaan kursus disini dapat optimal dan siap untuk diterjunkan dalam bursa dunia kerja “ungkapnya.

Sementara itu salah satu peserta kursus para profesi yang tidak mau disebut namanya mengatakan bahwa dengan adanya program kursus para profesi yang diadakan oleh LPK INASABA sangat membantu orangtua dan masyarakat.

“Saya merasa bangga dengan LPK INASABA yang telah peduli dengan anak putus sekolah, karena kebanyakan anak putus sekolah dikarenakan factor kondisi ekonomi orangtua yang kurang biaya. Mudah-mudahan Pemerintah Kota(Pemkot) Pekalongan akan lebih memperhatikan kegiatan ini karena sangat membantu bagi anak putus sekolah”ungkapnya.

Sekedar diketahui LPK INASABA yang baru berkiprah beberapa tahun sudah dapat meluncurkan program yang sangat mulia terutama bagi anak-anak keluarga yang kurang mampu namun berprestasi. Sehingga patut mendapat respon positif bagi berbagai kalangan khususnya Pemkot Pekalongan. (SW-01)

PENGUSAHA KECIL HARAPKAN PERHATIAN PEMERINTAH

Kendala yang sering dihadapi para pengusaha konveksi “kecil-kecilan” , adalah sulitnya mendapatkan pengadaan bahan baku, dan juga yang paling penting adalah pemasarannya. Hal ini diungkapkan pengusaha konveksi di Desa Karangsari Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, H. Mochamad Djaelani, kepada wartawan beberapa waktu yang lalu.

Lebih lanjut pak haji mengatakan, bahwa saat ini pihaknya merasakan, tidak adanya perhatian dari pemerintah daerah, kepada para pengusaha konveksi. “Pengusaha kecil, menurut pantauan saya, seperti sekarang di Kecamatan Bojong, seolah-olah tidak ada yang ngopeni dan pembinaan, sehingga, saat seperti ini, hasil produksi hanya ditumpuk saja. Dan untuk menaggulangi hal itu, hendaknya pemerintah turun tangan, minimal memberikan solusi”, tuturnya.

Pengusaha celana Jeans merk OCSA, ZICO dan ZIVANO ini berharap, pengusaha kecil-kecilan, ada perhatian dari pemerintah daerah. Karena bagaimanapun juga, telah ikut membantu pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran. “Harapan kami, pemerintah bisa menyediakan bahan baku, karena selama ini, kami merasa kesulitan untuk memperolehnya, dan kalau bisa, dengan harga standard. Karena bagaimanapun juga, kita telah membantu pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran. Dan saat ini kami telah memberdayakan 140 orang di Bojong untuk berkarya di perusahaan kami”, pungkas pria 71 tahun ini.(SW-02)

DENGAN PROYEK 65 MILYAR KOTA DAN KABUPATEN PEKALONGAN AKAN TERBEBAS DARI BANJIR TAHUNAN


Berita gembira ini patut untuk segera direalisasikan oleh Pemerintah. Karena selama ini, masyarakat Kota dan Kabupaten Pekalongan, khususnya wilayah yang dilewati alur sungai Sengkarang, Meduri dan Kali Bremi, selama ini sudah merasa jenuh, dengan hadirnya tamu tahunan, yakni banjir yang hingga datang 2 hingga 3 kali dalam 1 tahun.

Sebagaimana disampaikan Koordinator Satuan Kerja (Satker) Kupang Pekalongan, Nugroho, ST kepada wartawan mengatakan, bahwa pihaknya telah mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi, untuk melakukan normalisasi 3 alur sungai yang melintas di Kota dan Kabupaten Pekalongan. “Karena kita selaku orang lapangan yang menggeluti bidang ini, sehingga kita tahu apa permasalahan yang selama ini mengakibatkan banjir di wilayah kita. Dan kita sudah mengusulkan untuk diadakannya normalisasi Kali Sengkarang, Meduri dan Kali Bremi, dengan membuat sodetan ataupun muara baru, yang sudah kita usulkan sejak tahun 2000, dan semoga usulan anggaran ini bisa terealisasi”, tuturnya.

Lebih lanjut dikatakan Nugroho, perlu dimaklumi, bahwa daerah yang dilewati oleh ketiga sungai tersebut memang daerah yang rendah, yang diperparah dengan adanya pendangkalan disungai tersebut. “Intinya, kegiatan ini untuk penanggulangan banjir di Kabupaten Pekalongan yang meliputi Kecamatan Tirto dan Kota Pekalongan, khususnya di wilayah Kecamatan Pekalongan Barat, agar masyarakat terkurangi bebannya akibat banjir. Dan harapan saya, sebelum masa pension saya tiba tahun depan, Pekalongan sudah bebas dari banjir”, harapnya.

Ditemui dilain tempat, Kepala Kantor Pemberdayaan Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Pekalongan, Djajin, ST, membenarkan perihal akan adanya proyek yang akan menelan biaya sekitar 65 Milyar tersebut. “Menurut informasi yang kita dapat dari staff Balai Besar, kegiatan akan dilaksanakan tahun ini”, katanya.

Menurut Djajin, kegiatan ini dilaksanakan oleh provinsi, dan untuk daerah, hanya diminta untuk melakukan biaya pendampingan saja. “Pemda hanya diminta untuk membantu pendampingan saja, berupa pembebasan tanah hak milik warga, sedangkan untuk tanah milik negara, tergantung kebijakan pelaksana proyek”, imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Daryono mengatakan, pihaknya menyambut baik langkah yang diambil pemerintah ini. Karena menurutnya, masyarakatnya sudah jenuh dengan banjir tahunan yang sering melanda. “Kami selaku yang mewakili masyarakat, merasa senang dan salut, apabila kegiatan ini segera terealisasi. Karena selama ini masyarakat Jeruksari selalu mendapat tamu tahunan, yakni banjir yang hingga mencapai 15 hari”, katanya.

Lebih lanjut, Daryono mengungkapkan, bahwa pihaknya telah melakukan pengukuran tanah milik warga, yang akan dibebaskan. Dan untuk tanah GG serta tanah negara yang selama ini di rawat oleh masyarakat, belum ada titik temu ganti rugi, dan pihaknya berharap untuk adanya kompensasi. “Pengukuran dan pembebasan tanah berjalan lancar, karena masyarakat sudah menyadari, bahwa kegiatan ini untuk kepentingan bersama”, jelasnya.

Pihaknya berharap, wilayah Jeruksari yang muara-nya air dari kota dan Kabupaten Pekalongan, dan selama ini, didesa jeruksari tidak ada terusan yang menuju ke laut, atau buntu, proses realisasi kegiatan ini hendaknya untuk segera dilaksanakan. “Dengan adanya proyek ini, diharapkan bisa mengatasi banjir. Dan diharapkan, ada kompensasi bagi warga kami yang selama ini merawat tanah milik negara, karena tanah tersebut menjadi mata pencaharian warga kami”, pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan Camat Tirto, Puji Iriyanto, SH, MH. Kepada wartawan, dirinya mengatakan, optimis kegiatan ini bisa mengurangi penderitaan masyarakat, karena menurut pantauannya, banjir telah membebani selama 15 hari di wilayah kecamatan Tirto, kendati hanya dari air hujan biasa.(SW-02/03)

Annisa - "Sido Rondho"


Adalah Annisa, wanita Kelahiran Purwokerto16 Desember ini, sudah hobby nyanyi saat ia masih duduk di bangku sekolah, yang hingga kini masih digelutinya. Dan Berkat ketelatenannya mengeluti seni tarik suara, masyarakat kini sudah banyak yang mengenalnya, yang artinya, berangkat dari hobby, bisa juga jadi rejeki.

Ditemui usai “manggung” dalam acara lounching Tabloid Bulanan Suara Warga Pantura, di Kelurahan Tirto beberapa waktu lalu, dirinya mengaku, ingin tetap eksis di jagad hiburan.

“Yang pasti, saya ingin menjadi penyanyi yang professional, tanpa harus memilah milih siapa yang mengundang. Intinya, niatan kita untuk menghibur, dan mencoba menggali potensi diri saya untuk jadi lebih professional”, tuturnya.

Wanita yang baru 4 tahun di Kota Batik ini, dalam memenuhi undangan masyarakat tidak pernah mematok harga. “Sikap profesionalisme dalam bekerja selalu kita utamakan. Dan yang pasti, panitia sudah tahu harus ngasih honor berapa ketika biduan itu nyanyi, karena mereka pasti sudah bisa menilai, penyanyi itu professional atau tidak”, imbuhnya.

Dalam acara yang digelar oleh KIM Tirto Kota Pekalongan itu, wanita yang punya hobbi nyanyi, bikin kue atau masak ini, didampingi redaktur pelaksana Suara Warga, dengan suasana akrab melantunkan lagu Sido Rondho. (Trie)

PEKERJA YANG SUKSES JADI PENGUSAHA

Pekalongan - Adalah H.Rahmani (52) alias H.Abdurahman, pemilik CV.Garmindo Metatama salah seorang pekerja yang sukses menjadi pengusaha Garmen,Loundry dan Embroidery, yang beralamat di Jalan KH.Ahmad Dahlan Gang 8 No.392 Tirto Pekalongan.

Kepada Surga mengatakan, bahwa dirinya berawal bekerja di sebuah perusahaan di PT.Baliweek Raphael Division di Jakarta selama hampir 5tahun, sejak itulah ia menekuni pekerjaanya dan memasuki tahun 1997 ia merintis untuk membuka usaha sendiri di daerah kelahirannya di Pekalongan.

Motivasinya membuka usaha di daerahnya karena melihat banyak tenaga kerja di Pekalongan yang dapat dipekerjakan dan relatif murah upahnya.

“Upah kerja di Pekalongan relatif murah, karena Pekalongan sebagai kota industri yang letaknya strategis karena wilayah Pekalongan dapat terjangkau dari berbagai daerah seperti dari Bandung, Jakarta, Semarang danYogyakarta. Sehingga dengan jarak tempuh yang terjangkau secara otomatis biaya transport juga murah”, tutur Rahmani.

Usahanya kini bergerak dibidang jasa jahitan (garmen), jasa cucian (loundry) dan jasa border (embroidery), dan sudah merambah kebeberapa kota besar seperti Bandung, Jakarta, Semarang, Yogyakarta bahkan sempat mendapat pesanan dari Amerika.

Dikatakan untuk biaya atau ongkos jasa jahitan mencapai Rp.90.000 hingga Rp. 200.000,- perlusin, untuk biaya jasa border berkisar Rp.500 hingga Rp,1.500, perpotong sedangkan untuk jasa cucian dari Rp. 2.500 hingga Rp.6.000,- perpotong.

“Untuk biaya tergantung dari model yang dikehendaki”, jelas Rahmani yang saat ini mempunyai pekerja lebih kurang 87 orang.

Pekerjanya dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya bagian pemotongan, jahitan, produksi, cucian , border, gosokan dan pengepakan.

“Masing-masing bagian menyelesaikan tugasnya sendiri sehingga tenaga kerja disini sesuai bidangnya tidak dapat kerja secara acak harus professional. Karena kami selalu menjaga kualitas/ mutu dan kepercayaan”, terang suami dari Ny. Nafsiah dan Ny. Minarni ini.

Untuk mensiasati usaha jasanya, pihak perusahaan juga berupaya memproduksi celana jeans dan sebagainya, yang dipasarkan lewat agen-agen yang ada.

“Dalam keadaan menunggu orderan, kami juga memproduksi celana yang dipasarkan lewat para agen, sehingga karyawan tidak ada yang menganggur”, imbuhnya.

Usahanya di bidang jasa jahitan, cuci dan bordiran sangat mendukung dalam membuka lapangan pekerjaan khususnya masyarakat setempat, sehingga tidak ada masyarakat yang menganggur.

“Alhamdulillah masyarakat setempat sangat mendukung keberadaan usaha kami, sehingga tenaga kerja atau masyarakat disini dapat diberdayakan dalam kegiatan usaha kami”, pungkasnya. (SW-01@3)